ASPERINDO Jateng Paparkan Hambatan dan Solusi untuk SISLOGDA

SEMARANG [ELogistik.id]DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Jawa Tengah menyampaikan beberapa hambatan untuk industri jasa pengiriman di Jawa Tengah dan usulan untuk sistem logistik daerah (SISLOGDA) Jawa Tengah.

Dewan Penasihat Asosisasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDOJawa Tengah Elvis Wendri menerangkan hambatan pengiriman internasional antara lain proses Penerbitan Satwa Liar Luar Negeri (SAT-LN) sebagai persyaratan dalam UUD No 2 tahun 1990 untuk dokumen ekspor sarang burung walet ke berbagai negara mengalami kendala yang cukup signifikan karena waktunya 2-3 minggu,

“Sehingga potensi ekspor dari Jawa Tengah berpindah ke wilayah lain di luar Jawa Tengah,” ujar Elvis kepada ELogistik.id, Senin (10/2/2019).

Lebih lanjut, dia menegaskan hambatan berikutnya perihal surat angkut lanjut dari penerbangan internasional yang transit di Cengkareng (CGK) menuju SRG Ahmad Yani Semarang. Seperti diketahui penerbangan pesawat kargo dari Singapura ke Semarang saat ini hanya satu yakni MY INDO Airlines yang terbang rute pada Senin –Jumat dengan load 16 ton.

“Hal ini tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan jasa pengiriman di Jateng karena terbatasnya space pesawat kargo dan jam landing yang tidak kompetitif,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya memberikan solusi dengan menggunakan commercial flight yaitu Garuda Indonesia yang dari Singapura ke Jakarta 9 kali dan Jakarta- Semarang 7 kali/hari, atau setiap jam ada 1.

Akan tetapi hambatannya pada surat angkut lanjut yang memakan waktu 2-3 hari di Cengkareng. Oleh karena itu, kami mengusulkan ke Pemprov Jateng untuk bisa akselerasi, baik pada air line maupun bea cukai, untuk memproses surat angkut lanjut dalam hitungan jam.

“Karena itu akan memacu industri jasa pengiriman di Jateng yang kami canangkan pintu masuk ekspor dan impor di Jateng,” terangnya.

Sementara itu, Ketua DPW ASPERINDO Jateng Tony Winarno memberikan solusi untuk SISLOGDA) yakni dengan merevitalisasi logistik berbasis kereta api. Dia membeberkan untuk sistem logistik daerah, pihaknya mengusulkan Pemprov Jateng untuk merevitalisasi dan memanfaatkan tranportasi regional kargo melalui logistik kereta api. Sebagaimana diketahui, logistik Kereta Api adalah warisan dari kolonial Belanda yang bermula dari Jawa Tengah.

Dan dari 35 kab/kota di Jateng, hanya Kota Salatiga yang tidak memiliki stasiun Kereta Api. Jadi semua kab/kota di Jawa Tengah memiliki stasiun kereta api, bersamaan dengan stasiun kargo di setiap kota/kab di Jawa Tengah .

“Saat ini hanya sedikit yang memanfaatkan logistik KA karena kita para pelaku dan pemerintah daerah mungkin lupa potensi masa lalu tersebut. Hanya pada kota Demak, Kudus, Jepara, Rembang saja yang KA tidak beroperasi, Sedangkan daerah lain masih beroperasi.” ujar dia.

Bila status kargo KA dimanfaatkan untuk pengiriman barang yang berat, seperti pupuk, semen, beras dan lain lain. Maka beban dari jalan raya akan sangat berkurang sehingga biaya perawatan jalan akan menurun dan ketepatan waktu pengiriman serta biaya yang menggunakan KA justru lebih murah dibandingkan dengan truk. Hanya saja memang memerlukan peran serta aktif dari pemerintah dan asosiasi pengguna jasa kargo untuk terus menginformasikan penggunaan KA yang mana lebih efisian dan efektif dibandingkan menggunakan jalan raya.

Dalam hal ini asosiasi siap mendukung kepada Pemprov Jateng, untuk melakukan kegiatan ini dengan menggandeng PT KAI dan pengguna jasa kargo yang lainnya.

“Kami memberikan masukan dan solusi atas problematika industri jasa pengiriman di Jateng,” jelasnya. (Hamdi/red)

127
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *