ASPERINDO Jateng Desak Pemerintah Realisasikan Maskapai Asing Masuk Indonesia

SEMARANG [ELogistik.id]—Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Jawa Tengah mendesak Pemerintah Indonesia untuk merealisasikan maskapai asing guna menggairahkan kompetisi di industri maskapai.

Ketua DPW ASPERINDO Jateng Tony Winarno menjelaskan selama ini maskapai domestik didominasi grup Garuda Indonesia dan grup Lion Air. Sehingga, saat harga tiket dan tarif surat muatan udara (SMU) atau tarif kargo mengalami kenaikan akan berimbas pada industri jasa pengiriman ekspres di Indonesia.

“Kami desak Pemerintah untuk segera datangkan maskapai asing. Artinya, biar harga tiket dan tarif kargo bisa kompetitif,” katanya kepada ELogistik.id, Senin (24/6/2019).

Saat ini, tarif kargo untuk maskapai asing yakni Air Asia dengan rute Jogjakarta – Kualanamu Medan (JOG-KNO) lebih murah daripada tarif maskapai domestik. Sebagai informasi, tarif kargo dari Jogkarta-Medan yaitu 14.000/kg atau lebih murah 42% dibandingkan dengan tariff kargo domestik grup Garuda Indonesia maupun grup Lion Air sebesar 20.000/kg.

Data dari ASPERINDO, terdapat 20-an perusahaan logistik terkena dampak penurunan pendapatan akibat dari kenaikan tarif SMU yang mencapai 350%. Dari angka itu, 4 perusahaan jasa pengiriman gulung tikar.

Rata-rata biaya SMU itu menyumbang 30-40 persen dari total biaya yang dikeluarkan perusahaan ekspedisi. Adapun margin untung perusahaan ekspedisi rata-rata sekitar 15-20 persen dari harga jual.

Untuk klien yang memahami kenaikan tarif SMU, kenaikan harga jual tidak menjadi soal bagi konsumen. Namun, tak sedikit konsumen yang tidak sepakat dengan kenaikan harga baru. Ujung-ujungnya, klien lari.

Oleh sebab itu, pihaknya mengarahkan agar jasa pengiriman beralih ke muatan transportasi darat dan transportasi laut. Hal itu merupakan langkah efektif untuk mengantisipasi besarnya pengeluaran atau biaya dari perusahaan jasa pengiriman.

“Yang pertama saya tegaskan untuk beralih ke transportasi darat dan yang kedua transportasi laut,” tuturnya.

Kenaikan tarif SMU turut berdampak pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Batang Jawa Tengah. Sebab, ongkos kirim untuk pengiriman luar Jawa atau antar provinsi mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

“Untuk kenaikan tarif paket atau ongkos kirim bisa mencapai 30%. Terkadang, konsumen kami tidak mau dengan harga segitu. Akibatnya, banyak konsumen saya yang batal membeli produk saya,” kata Wahidah, pelaku bisnis online Haura Olshop kepada ELogistik.id. (red/Hamdi).

35
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *