Jalan Tol Brebes-Semarang Sepi? Yuk, Simak Penjelasan Pakar

PEKALONGAN[ELogistik.id]—Fenomena sepinya sejumlah ruas jalan tol Trans Jawa, seperti di ruas Semarang – Brebes misalnya, tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya.

Beberapa pihak menyatakan, hal ini terjadi salah satunya karena tarif tol yang dinilai masih cukup mahal, terutama bagi pengguna harian. Bisa Juga karena rendahnya pemahaman akan manfaat hemat waktu, dan potensi hemat BBM, jika dibandingkan menggunakan jalan Pantura, seperti dikutip tribunjateng.com.

Jika dilihat lebih dalam, pengguna jalan tol, khususnya di Trans Jawa, mempunyai tiga opsi:

Pertama, pengguna yang sepenuhnya menggunakan jalan tol TransJawa;

Kedua, pengguna yang menghindari tol, karena sejumlah alasan, seperti tarif tol yang tidak sesuai dengan anggaran biaya perjalanan;

Ketiga, pengguna yang memilih masuk dan keluar ruas tol tertentu, karena faktor yang beragam.

Dari ketiga opsi pengguna tersebut, dalam rangka untuk meningkatkan ekonomi lokal, khususnya pada daerah yang dilalui oleh jalan tol, seharusnya dapat diberikan kebijakan yang berbeda.

Pembedaan juga harus dilakukan, bagi pengemudi mobil pribadi atau angkutan barang. Hal ini karena terdapatnya perbedaan kepentingan dan kebutuhan.

Pengemudi truk sebagai salah satu contoh pengguna jalan bebas hambatan, tentu memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda jika dibanding dengan pengemudi kendaraan pribadi.

Tidak hanya mengantarkan barang hingga ke tempat tujuan, mereka juga harus berhitung dengan biaya yang harus dikeluarkan, termasuk waktu tempuh selama perjalanan.

Di sisi lain, masih kerap dijumpai, kondisi armada truk yang tidak kompatibel dengan kondisi jalan tol Trans Jawa.

Sebagaimana data yang dirilis oleh Indonesian Trucking Association (ITA), bahwa 63% truk yang saat ini digunakan untuk membawa barang, sudah tua dan perlu untuk diremajakan.

Dengan adanya pembangunan jalan tol Trans Jawa, hal inilah yang seharusnya direspon. khususnya oleh perusahaan manufaktur atau ekspedisi, untuk segera melakukan peremajaan armadanya.

Jika tidak dilakukan, maka alih alih menggunakan jalan tol, sejumlah pengemudi truk mungkin akan lebih memilih melewati jalur pantura, dibandingkan jalur tol, hanya karena tidak imbangnya kapasitas truk, jumlah muatan, dengan besarnya biaya perjalanan yang harus ditanggung.

Dengan kondisi armada yang tidak kompatibel dengan jalan tol, maka selisih waktu perjalanan antara jalan tol dan jalan pantura, menjadi tidak cukup signifikan.

Sementara itu, terkait dampak pada aktivitas ekonomi lokal, Chandra, A. and E. Thompson (2000) menyatakan bahwa pembangunan jalan bebas hambatan, akan mempunyai dampak yang berbeda terhadap industri yang berbeda.

Industri yang memproduksi barang atau jasa berskala nasional, akan lebih diuntungkan dengan adanya akses langsung ke jalan bebas hambatan.

Sementara itu, manfaat positif untuk industri yang berbasis perdagangan regional, hanya akan dinikmati oleh industri berbiaya rendah, dan industri berbiaya tinggi tapi menggunakan sistem kontrak. Industri yang mendapatkan akses langsung, diperkirakan akan menikmati peningkatan antara 2%-10%.

Unit usaha lain, yang diprediksi meningkat diantaranya adalah industri keuangan, asuransi, perumahan, transportasi, komunikasi, dan perusahaan penyedia layanan publik.

Sementara itu, dalam skala ekonomi regional, akan ada tiga sektor yang akan mengalami penurunan pendapatan, yaitu: pertanian, perdagangan retail, dan pemerintahan. Khusus untuk sektor perdagangan retail, diperkirakan akan mengalami penurunan antara 3% – 6%. Tergantung berapa lama, akses tol di setiap kawasan.

Upaya untuk mengatasi penurunan ini, misal di sektor perdagangan retail, harus segera dilakukan antisipasi dini oleh Pemerintah. Usaha membawa produk lokal ke rest area, pasti akan terbentur oleh kapasitas, karena tidak mungkin akan menampung seluruh pedagang retail di Pantura.

Jadi hal yang dapat dilakukan, adalah melakukan upaya sistematis dan melibatkan lintas sektor, misal : diskon khusus bagi pembeli produk lokal yang mempunyai kupon e-commerce, bisa juga dengan melibatkan komunitas untuk mengenalkan produk lokal di marketplace, atau bisa juga dengan mengembangkan produk lokal inovatif yang hanya ditemui di daerah tesebut. (red)

20
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *