Ekspor Perdana Bunga Melati Melalui Bandara Ahmad Yani Semarang

ASPERINDO Dukung APLOG dan AP 1 Ekspor Perdana Bunga Melati

TEGAL [ELogistik.id]—Bunga Melati yang tumbuh di sepanjang pantai utara dari Brebes hingga Batang Jawa Tengah berpotensi untuk di ekspor ke berbagai Negara. Hal ini akan menumbuhkan perekonomian daerah khususnya bagi petani setempat.

Kali pertama,  petani di Kabupaten Tegal melakukan ekspor yang difasilitasi Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang dan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian dan didukung oleh stakeholder terkait. Ekspor produk Bunga Melati turut didukung Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Jawa Tengah bekerjasama dengan PT Angkasa Pura I (Persero) Semarang, Angkasa Pura Logistik (APLOG) Semarang dan Garuda Indonesia.

Kepala Badan Karantina Pertanian (BKP) Kementan Ali Jamil menjelaskan ada empat negara di antaranya Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Arab Saudi rutin meminta kiriman dari Bunga Melati asal Jateng ini.

Menurutnya, Bunga Melati yang tumbuh di pesisir Pantura Jateng, khususnya Tegal hingga Batang ini memiliki daya tarik tersendiri bagi negara-negara lain.

“Bunga Melati yang ditanam di pesisir Pantura Jateng memiliki keunggulan yang tidak dimiliki negara eksportir lainnya yaitu, India, Vietnam, dan Filipina. Dari sisi bentuk, warna, dan keharumannya lebih unggul dibandingkan negara eksportir lainnya,” tutur Ali saat acara Public Hearing Program Aksi Agro Gemilang Akselerasi Ekspor Produk Petani Jateng di Hotel Bahari Inn Kota Tegal, Selasa (19/2/2019).

Namun yang jadi masalah sekarang, selama ini pengiriman ekspornya tidak melalui Bandara Ahmad Yani, tapi lewat Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong ekspor Bunga Melati melalui Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang dengan segala kemudahan.

Sejak Agustus 2018 hingga Januari 2019, BKP Kelas 1 Semarang Kantor Wilayah Kerja Tegal telah memberikan jasa pemeriksaan dan sertikasi bunga melati terhadap sembilan eksportir untuk empat negara.

Ali berujar, jumlah ekspor dalam enam bulan terakhir itu mencapai total volume 1.048.196 Kg dengan frekuensi 1.201 kali pengiriman.

Total pemasukan devisa dari kegiatan ekspor selama enam bulan terakhir ini senilai Rp 200 Miliar dengan rata-rata per Kg 13 USS (Kurs 1 USS : Rp 14.000).

Namun, pihaknya menyayangkan bahwa Bandara tempat pengeluaran ekspor selama ini tidak melalui Bandara Ahmad Yani Semarang.

“Sehingga data eksportasi bunga melati asal Kabupaten Tegal hingga Batang ini tidak tercatat dalam data statistik BPS Provinsi Jateng karena mengirimnya lewat Jakarta. Maka, langkah ekspor perdana melalui Semarang ini menjadi momentum penting,” papar dia.

Dengan pengiriman via Semarang, Ali mengungkapkan, para eksportir akan diuntungkan dengan jarak dan waktu tempuh dari sentra produksi ke Bandara.

Kemudian, kata dia, biaya logistik bisa lebih murah dibandingkan mengirimkan bunga melati via Jakarta.

“Jadi lebih pendek dan singkat. Keuntungan ini akan sejalan dengan jumlah permintaan dari negara-negara tujuan yang masih tinggi. Sekitar 2 – 3 kali lipat dari kapasitas produksi bunga melati Jateng saat ini,” imbuh Ali.

Komisi IV DPR RI KRT Darori Wonodipuro menjelaskan tantangan ke depan adalah penyempitan lahan yang digunakan untuk petani Bunga Melati. Dia menginginkan potensi lahan yang bisa digunakan untuk tanam bunga melati sudah semestinya digarap dengan maksimal.

Darori berharap instansi dan BUMN terkait bisa memfasiltasi dan mendorong sektor perekonomian kerakyatan tersebut

“Kami dukung kegiatan ekspor Bunga Melati dari Jawa Tengah. Potensinya harus dimaksimalkan, bila ada kesusahan, biar saya bantu komunikasi dengan pihak pihak terkait,” jelas dia dalam kegiatan tersebut.

Badan Karantina sendiri melakukan penjaminan kesehatan terhadap komoditas melati ekspor berupa pengawasan kesehatan komoditas pertanian tersebut agar bebas dari hama dan penyakit tumbuhan, seperti serangga hidup. Diantaranya dilakukan perlakuan pencelupan insektisida (dithane) dan pendinginan. Hal tersebut dilakukan agar eksportasi melati dapat memenuhi persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) negara tujuan.

Selain melaunching ekspor perdana melati ke Singapura via Ahmad Yani, acara juga menghadirkan 200 petani (petani bawang, beras merah, manggis dan melati) dalam rangka mengikuti program Agro Gemilang di Karantina Semarang.

Lewat program Agro Gemilang, Kemtan via Barantan melakukan pendampingan kepada petani dan calon eksportir, khususnya para pemuda millenial, supaya dapat ikut terjun meningkatkan eksportasi komoditas pertanian. Pembinaan kepada kelompok tani diantaranya dilakukan melalui bimbingan teknis cara pengendalian organisme pengganggu tumbuhan dilapangan saat budi daya, pembinaan saat prosesing ekspor dengan penerapan higiena dan sanitasi di area processing.

“Ini salah satu upaya meningkatkan neraca perdagangan kita, lewat eksportasi non migas,” jelasnya.

Di Jawa Tengah sendiri, sebaran petani bunga melati terutama ada di Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang dan Pekalongan yang seluas 600 hektar. Harga bunga potong melati di tingkat petani untuk passr lokal sebesar 30.000 – 50.000 rupiah per kg, sedangkan untuk tujuan ekspor, harga ditingkat petani bisa mencapai Rp. 100.000 per kg. Keuntungan petani dapat meningkat hingga 50%.

Hingga saat ini, di Jawa Tengan sendiri hanya terdapat 9 eksportir bunga melati, yang sebagian besar eksportasinya melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Ketua ASPERINDO Jateng Tony Winarno menjelaskan ekspor perdana Bunga Melati akan meningkatkan perekonomian petani. Pihaknya mendorong kegiatan tersebut dengan bekerjasama dengan AP 1, APLOG Semarang dan Garuda Indonesia.

“Dengan kerjasama tersebut, biaya logistik bisa diteken hingga 50%. Artinya, jika semua stakeholder saling bergandengan tangan, akan memberikan kemudahan bagi eksportir atau petani,” jelas dia. (Hamdi/red)

93
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *