Hati Hati Rentenir Berkedok Start Up Fintech

SEMARANG [ELogistik.id]—Kemudahan transaksi pinjaman di era teknologi justru menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat luas. Terbukti, di Semarang Jawa Tengah terdapat seorang ibu rumah tangga sebut saja Miss X yang tergiur dengan iming-iming pinjaman tersebut.

Cerita ini berawal saat Miss X mendapatkan tawaran pinjaman melalui pesan singkat atau SMS dengan link aplikasi PANDA dan Monkey. Dari situlah terjadi transaksi pinjam meminjam.

Pengamat Financial technology (Fintech) Jawa Tengah Tony Winarno menjelaskan nasabah semula ditawarkan pinjaman Rp 680.000, tapi disuruh mengembalikan Rp 1,6 juta dalam waktu 14 hari, bila tidak akan terkena denda. Ketika itu miss X meminjam kedua-duanya. Ketika meminjam Rp680.000, maka dalam jangka tertentu harus mengembalikan dengan total Rp18 juta.

“Ini yang harus diperhatikan oleh masyarakat luas. Jadi mereka ini sebenarnya rentenir berkedok start up fintech,” jelas dia, Senin (4/2/2019).

Dia menjelaskan perbuatan itu sangat merugikan bagi ibu ibu yang tidak mengerti hukum tentang Perbankan. Fintech tentu saja harus dapat izin dari OJK dan otoritas terkait lain, karena diatur dalam UU termasuk UU No 38/2019 tentang Pos, yanng mana no 4 mengatur tentang transaksi keuangan.

“Apakah mereka memiliki izin dari OJK dan Penyelenggara Pos. itu yang sangat kita curiga mereka itu abal-abal. Dengan menerapkan waktu 14, mereka menerapkan bunga 50-60%. Bagi orang kecil dengan persyaratan yang mudah hanya KTP, itu menarik. Kemudian ternyata si operator ini mengkloning semua kontak dari no handphone si nasabah. Ketika nasabah itu gagal bayar mereka mengumumkan melalui WA, SMS maupun telpon kepada teman-teman lainnya,” jelas dia.

Nomor panggilan yang masuk ke nasabah melakukan ancaman dan terror bertubi-tubi. Guna mencegah hal itu, semestinya Ditreskrimsus Mabes Polri berusaha keras untuk membuka data tersebut, sehingga nasabah lain bisa terhindar dari praktik yang tidak sesuai dengan aturan perundangan.

“Saat ini kondisi miss X sangat terpukul karena diancam dan diteror,” jelas dia.

Tony memberikan himbauan kepada masyarakat luas, jika memperoleh kredit tanpa agunan dengan aplikasi, mohon dihindari agar tidak celaka di belakang hari.

“Di UU Perbankan telah diatur bahwa dalam transaksi apapun harus ada aplikasi permohonan, tanda tangan kesepakatan kredit, kalau angkanya besar, dengan begini masyaakat diabaikan hak haknya. Maka akhirnya, rentenir inilah merasa paling unggul dan percaya diri, mereka bertindak dan dampaknya merugikan masyarakat banyak,” (red)

82
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *