Aksi Korporasi Garuda Indonesia Dengan Naikkan Tarif Kargo Udara

SEMARANG [ELogistik.id]—Kenaikan tarif kargo udara dengan besaran mencapai 250% sangat meresahkan pelaku jasa pengiriman dan logistik. Bagaimana tidak, kenaikan tarif kargo terjadi sangat masif untuk semua tujuan di seluruh Indonesia.

Ketua DPW ASPERINDO Jateng Tony Winarno membeberkan kenaikan tarif kargo udara sangat meresahkan pengusaha yang memanfaatkan pengiriman melalui maskapai penerbangan.  Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika ada temuan dari tim bentukannya untuk mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.

Peristiwa ini dimulai 1 oktober 2018, yang mana Garuda Indonesia melakukan aksi korporasi dengan menaikkan tarif kargo udara dengan tujuan ke seluruh Indonesia. Kenaikan itu oleh airlines yang merupakan anak usaha dari Garuda Indonesia serta maskapai penerbangan swasta lainnya.

“Pertama kali naik 50%, hingga sampai saat ini naik 70%. Hal inilah yang menjadi patokan yang memicu airlines lain sama sama menaikkan biaya kargo udara. Padahal, kalau kita lihat bahwa biaya minyak dunia turun, biaya handling pesawat untuk ground handling hanya naik sebesar 20%, yang artinya tidak berpengaruh pada biaya tarif kargo,” jelas dia, kepada ELogistik.id, Rabu (9/1/2018).

Berikutnya, dia menerangkan rupiah menguat atau dibawah Rp 14.000, artinya biaya leasing pesawat dengan rupiah menguat maka jumlah yang dibayarkan akan turun. Dia menjelaskan, semestinya makin tingginya atau volume pengiriman dari perusahaan anggota ASPERINDO Jateng yang mana secara volume akan berpengaruh pada pendapatan dari airlines itu sendiri.

“Sehingga bila empat kali terjadi kenaikan tarif kargo secara beruntun, maka terjadi suatu anomali atau keganjilan. Dan ternyata baru kita ketahui, Direktur Kargo dan Pengembangan Bisnis Garuda Indonesia yang berasal dari semula Pelindo dan Samudra Indonesia,” ujarnya.

Semestinya, untuk menaikkan bisnisnya dengan menaikkan volume kargo, bukan menaikkan tarif kargo udara yang berdampak sistemik, yang mana sangat merugikan UMKM dari daerah yang harus diterbangkan melalui udara.

Sebagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Jateng yang menggunakan pesawat komersial yang terbang ke seluruh Indonesia. Kalau direksi Garuda Indonesia tidak memiliki hati nurani dan hanya memikirkan komersial, maka sejumlah UMKM akan menjerit.

“Secara komersial, profit boleh. Namun, kenyataan kenaikan kargo hingga 3 kali mencapai 75% akan menyakitkan semua pihak. Semestinya, dengan kompetitif biaya kargo akan meningkat pertumbuhan ekonomi di Jateng,” jelas dia.

Harapannya, kalau pemerintah memberikan pesawat kargo kepada ASPERINDO Jateng, jangan pernah menunjukkan Garuda Indonesia.

Fakta lain, terbukti, pesawat khusus kargo yang menerbangi Semarang- Jakarta dan Jakarta-Singapura yakni MY INDO Airlines tidak menaikkan tarif kargo udara.

“Inilah PR besar yang harus ditangani secara serius. Kami mohon kepada Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan untuk mereview jajaran direksi Garuda Indonesia yang mengurus kargo udara,” terangnya. (Hamdi/red)

981
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *