ASPERINDO Desak Garuda Indonesia Batalkan Kenaikan Tarif SMU

JAKARTA [ELogistik.id]—Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) terus bersuara lantang mendesak kepada perusahaan maskapai penerbangan berpelat merah PT Garuda Indonesia untuk membatalkan kenaikan tarif Surat Muatan Udara (SMU).

Desakan itu bukan tanpa alasan. Sebab, saat ini volume kargo udara meningkat terus dari waktu ke waktu, seyogyanya tarif SMU bisa stabil. Ditambah lagi, saat ini telah terjadi kenaikan tarif SMU secara serentak di seluruh Indonesia.

“Hal ini menyebabkan gejolak dari seluruh anggota Asperindo tidak saja di Jakarta, tapi juga dari seluruh Indonesia. Kami dari ASPERINDO meminta Garuda untuk membatalkan kenaikan tarif SMU,” jelas Ketua Umum DPP ASPERINDO M. Feriadi kepada ELogistik.id, Jumat (19/10/2018).

Tak hanya itu, kata Feriadi, asosiasi juga menuntut peningkatan mutu dan kecepatan layanan antara lain penambahan kapasitas layanan di lini I, menghapus biaya tambahan selain tariff SMU  yang tidak perlu dan bersama stakeholder bandara lain berusaha menghapus pungutan-pungutan yang tidak perlu yang terjadi di Bandara.

“Kami menawarkan opsi adanya pengecualian pengenaan tarif SMU bagi Anggota ASPERINDO. Selain itu, ASPERINDO mengajak membangun kolaborasi/sinergi di masa mendatang,” jelas dia.

Keluhan dari ASPERINDO itu  sebagai tindak lanjut bahasan internal DPP perihal tersebut diatas yang dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2018 dan setelah dikirimnya “Surat Keberatan ASPERINDO” kepada Menteri Koordinator Perekonomian (No. 102/DPP.ASPER/X/2018 tanggal 11 Oktober 2018 dengan tembusan kepada Menko Kemaritiman, Menteri BUMN, Menteri Kominfo, Direksi PT. Garuda Indonesia, Direksi PT. Citilink dan Direksi PT. Lion Air), dengan dipimpin oleh Ketua Umum DPP ASPERINDO M Feriadi, Rabu tanggal 17 Oktober 2018 DPP telah melakukan  pertemuan dengan Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha PT. Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal beserta staf di Kantor Sekretariat ASPERINDO.

Tujuan utama dari pertemuan adalah membahas dan meninjau kebijakan kenaikan tarif SMU yang diberlakukan oleh PT. Garuda Indonesia.

Menanggapi hal itu, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha PT. Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal menjelaskan bahwa selama 2  tahun ini Garuda mengalami kerugian baik dari angkutan penumpang, maupun barang. Dia menambahkan kerugian semakin besar dipicu oleh depresiasi rupiah dan naiknya harga fuel.

“Garuda akan memaksimalkan perolehan pendapatan dari portofolio usahanya yaitu: angkutan penumpang dan kargo. Salah satunya dengan menaikkan tarif,” jelas dia.

Menurutnya, kenaikan tarif tersebut bukan dalam rangka untuk membuat Garuda mendapatkan laba/keuntungan, tapi untuk mengurangi kerugian dan agar Garuda dapat tetap survive.

Dia menjelaskan kebijakan kenaikan tarif sudah atas sepengetahuan dan bahkan atas arahan dari pemegang saham.

“Kenaikan tarif SMU Garuda adalah keputusan final. Kami mempertimbangkan penghapusan tariff-tarif tambahan atas tarif SMU yang ada,” jelas Iqbal.

Pihaknya menyatakan Garuda akan menambah kapasitas layanan di tahun 2019 di area Cargo Village. Disamping itu akan menambah kapasitas di kota2 lain a.l: Jayapura, Makasar dan Denpasar.

“Meningkatkan pelayanan yang berorientasi: kecepatan, transparan (FIFO) dan akuntabel,” papar dia.

Dari hasil meeting itu tidak menghasilkan perubahan atas kenaikan Tarif SMU. Masing-masing pihak berusaha menjelaskan informasi yang melatarbelakangi dari perspektif masing-masing.

Ketua Umum DPP ASPERINDO M. Feriadi mengharapkan adanya respon dari surat yang dikirim ke Kantor Menteri Koordinator Perekonomian.

“Kami menunggu keputusan dari Direktur Kargo tentang dihapuskannya beberapa pungutan/tariff tambahan Garuda yang tidak perlu. Menindaklanjuti usaha perjuangan melalui Kantor Meneg BUMN (non target),” katanya.

Karena deadlock, ASPERINDO menghimbau kepada semua perusahaan anggota di seluruh Indonesia untuk melakukan kiriman melalui alternatif transportasi lainnya (transportasi darat misalnya) yang dapat memenuhi rute – rute yang diharapkan dan dengan harga/tarif yang layak (perusahaan anggota ASPERINDO, khususnya yang masih tergolong UKM juga harus tetap dapat survive).

“Mempertimbangkan untuk secara bersama – sama melakukan penyesuaian (kenaikan) tarif yang besarannya ditetapkan oleh masing – masing perusahaan,” jelas dia. (Hamdi/red)

284
Loading Likes...

Berita lainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *